Cerita Guru SBB dari TK Terpadu Mandastana, Barito Kuala, Kalimantan Selatan

“Saya itu menjadi PNS Guru SD di usia 22 tahun dan pensiun di tahun 2015,” ucap Ibu Napsah. Ibu Hajah Napsah, dan suaminya, Bapak Haji Abdul Samad mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan usia dini.

Keprihatinannya akan kondisi anak-anak di lingkungan sekitarnya yang pada saat itu harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk ke sekolah membuatnya mendirikan sekolah sendiri bernama TK Terpadu Mandastana. Dibantu dua orang keponakannya, beliau pun mendirikan sekolah di atas tanah milik pribadi seluas 280 m2 yang berlokasi di Jalan Hasan Basri Km 16, RT 04/RW 02, Desa Puntik, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.

Sekolah ini terlihat sangat bersih dan terawat dengan tiga bangunan utama yang tiap-tiap bangunan terdiri atas tiga ruangan. Ada dua toilet yang bisa digunakan oleh para guru dan murid. Ada juga satu ruang aula yang ukurannya lebih besar dari kelas lainnya dan biasanya digunakan ketika kegiatan nonton bareng. Selain itu, tersedia loker tas, rak sepatu, tempat cuci tangan, dan alat kebersihan—berada di tempat yang semestinya. Tanaman-tanaman ditata sedemikian rupa sehingga membuat lingkungan sekolah terlihat menarik dan nyaman.

“Kalau guru-guru sudah pulang, saya yang menyapu, membersihkan. Nanti sore saya siram tanaman-tanaman ini makanya saya juga tinggal di sini,” Kata Bu Napsah sambil menunjukkan deretan tanamannya yang cantik dan segar.

Di samping sekolah ada sebuah rumah yang sudah tidak ditinggali lagi. Bu Napsah tinggal di rumah itu dulu. Akan tetapi, karena tahun lalu kebanjiran, beliau dan suaminya memutuskan untuk pindah ke sekolah.

“Mohon doanya, saya ingin nantinya bekas rumah saya itu dibangun sekolah dasar, saya percaya kalau nanti sekolah bisa berjalan terus, itu yang nanti buat bekal saya kalau saya sudah tidak ada,” ujar Bu Napsah sambil menahan air mata.

Setiap harinya ia di sekolah, yah, karena beliau juga tinggal di salah satu kelasnya. Ibu Napsah tak segan-segan menemani anak-anak yang sedang bermain di halaman. Beliau juga dengan sukarela menjaga anak-anak para guru yang sedang mengajar. Masyaallah, begitu bernilainya hidup beliau, bukan hanya memperhatikan anak-anak untuk sekolah, melainkan juga guru-gurunya.

“Saya kan dapat sertifikasi, Bu, kan saya dulu mengajar. Hasil sertifikasi itu saya bagi-bagi, saya kasih ke guru-guru. Sisanya saya simpan buat beli buku sama mainan anak. Kalau buat saya dari hasil sawah aja, Bu. Soalnya, kalau buat gaji guru tidak cukup kalau mengandalkan SPP dari siswa.”

Jadwal dan Kegiatan Harian

Tahun ini TK Terpadu Mandastana memiliki 37 murid dan 4 guru serta seorang kepala sekolah. Setiap pagi hari, guru piket menyambut anak-anak di gerbang sekolah. Sebelum memulai kegiatan, semua anak dan guru melakukan kegiatan motorik di halaman sekolah, seperti senam. Setelah itu, mereka mencuci tangan, lalu memasuki kelas.

Sebelum belajar, pemimpin kelas memberikan aba-aba untuk membaca doa sebelum belajar dan doa untuk kedua orang tua serta hafalan surah pendek. Kemudian,  guru membacakan informasi-informasi di display yang terpasang di tembok, seperti tema, Pilar Karakter, jadwal kegiatan, hari dan tanggal, dan peraturan kelas. Pada sesi ini, guru juga mempersilakan anak-anak untuk bercerita pagi secara bergantian.

Pada kegiatan jurnal pilihan, guru menyediakan tiga kegiatan,  yaitu playdough, meronce, dan merangkai lego. Anak-anak diberikan kesempatan memilih kalung dengan tanda gambar manggis untuk kegiatan lego, durian untuk kegiatan meronce, dan melon untuk playdough. Sementara itu, guru berkeliling dan bertanya kepada anak-anak bagaimana cara mereka membuatnya. Anak-anak sudah memahami peraturannya sehinggga tidak terdengar ada yang mengeluh.

“Waktunya pilar, waktunya pilar, waktunya pilar,” demikian anak-anak dan guru menyanyikan lagu pembuka sebelum kegiatan pilar. Anak-anak secara spontan duduk di karpet untuk mendengarkan cerita guru. Pada kegiatan ini guru bercerita tentang Pilar Karakter Kerja Sama.  “Anak-anak, apa itu kerja sama?” tanya guru kepada siswa-siswanya. Guru mencoba mengalirkan pilar dengan bertanya apa, mengapa, di mana, contohnya seperti apa,  dan bagaimana perasaannya.

Satu hal yang unik dari sekolah ini, saat tiba waktunya kelulusan, anak-anak diminta memberikan sebuah tanaman yang nantinya akan ditanam demi menghijaukan lingkungan sekolah.  “Sebagai kenang-kenangan (juga), Bu,” ucap Ibu Napsah sambil tersenyum.

 

Begitulah cerita tentang kemuliaan hati Ibu Napsah dan Bapak Abdul Samad yang mengabdikan hidupnya untuk anak-anak bangsa. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua.

Penulis: Anita Fitriasari
Editor: Ari Saptarini dan Teuku Zulman Sangga Buana

Adaro Indonesia, mitra IHF sejak tahun 2011 sampai sekarang. Awalnya, IHF bermitra dengan Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) dan melatih 23 sekolah. Kemudian, pada tahun 2018, Adaro Indonesia membuat proyek pelatihan dan pembinaan guru di Tabalong, Batola, dan Banjar (Kalimantan Selatan) dan di Murung Raya (Kalimantan Tengah). Proyek ini diawali dengan program pelatihan dan magang di IHF yang diikuti oleh 63 lembaga pendidikan. Setelah itu, dilanjutkan dengan program pembinaan rutin yang dilakukan oleh para pendamping lapang di setiap wilayah.

Close Search Window