Mendidik Gen Z dan Generasi Alfa
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Oleh Syaeful Bahri
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di ruang kelas Indonesia bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan zaman yang menuntut tanggung jawab besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan diadopsi, melainkan bagaimana bangsa ini akan mengarahkannya secara bijak, adil, dan tetap memanusiakan manusia. Mengabaikan gelombang ini akan membuat pendidikan kita usang, namun mengadopsinya secara gegabah berisiko memperlebar jurang ketimpangan yang sudah ada.
Panduan etis global dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) meletakkan fondasi yang krusial: pendekatan yang berpusat pada manusia. Teknologi AI harus berfungsi sebagai asisten untuk meningkatkan kapabilitas guru dan siswa, bukan menggantikan peran mereka.
UNESCO mengingatkan agar negara tidak memandang kecerdasan buatan sebagai “obat mujarab” untuk masalah fundamental, seperti kekurangan guru atau infrastruktur yang buruk. Karena itu, diperlukan regulasi yang kuat terkait dengan privasi data dan pengujian alat AI sebelum digunakan di sekolah.
Pelajaran berharga datang dari dua negara maju di Asia yang menempuh jalan berbeda. Singapura menjadi model keberhasilan melalui pendekatan yang sistematis dan matang. Lewat EdTech Masterplan 2030, mereka tidak sekadar mengadopsi teknologi, tetapi membangun seluruh ekosistemnya: investasi jangka panjang pada riset, pengembangan kapasitas guru secara masif, dan kolaborasi lintas kementerian yang solid. Platform pemelajaran milik Singapura, Student Learning Space (SLS), yang diperkaya AI adalah buah dari strategi yang sabar dan terintegrasi.
Sebaliknya, Korea Selatan menawarkan kisah peringatan. Rencana ambisius untuk mengganti buku teks dengan buku teks digital AI (AIDT) pada tahun 2025 secara nasional terbukti tergesa-gesa. Implementasi yang bersifat dari atas ke bawah ini gagal total karena guru merasa sama sekali tidak siap, sementara puluhan ribu orang tua menolak karena khawatir akan dampak waktu layar (screen time) dan privasi data anak. Sebab itu, pelajaran bagi Indonesia sangat jelas: jangan memaksakan teknologi sebelum fondasi sosial dan kesiapan sumber daya manusianya matang.
AI sebagai Mata Pelajaran Pilihan
Di dalam negeri, Indonesia telah mengambil langkah awal. Di bawah payung Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA), pemerintah mulai memasukkan pengodean (coding) dan AI sebagai mata pelajaran pilihan serta menerbitkan panduan penggunaan AI untuk perguruan tinggi. Aset terbesar kita, Kurikulum Merdeka, dengan fleksibilitasnya, bisa menjadi wahana ideal untuk mengintegrasikan fondasi AI, seperti berpikir komputasional (computational thinking).
Namun, fleksibilitas ini adalah pedang bermata dua. Tanpa panduan dan pelatihan guru yang merata, kurikulum ini justru berisiko memperlebar kesenjangan antara sekolah di kota besar dan daerah terpencil. Ambisi kebijakan ini pun harus berhadapan dengan dua ganjalan utama di lapangan.
Pertama, jurang digital yang menganga, tidak hanya soal akses internet, tetapi juga kualitas koneksi dan kompetensi digital. Hal ini melahirkan risiko “ketidakadilan algoritmik”, yaitu AI justru memberikan rekomendasi yang keliru bagi siswa di daerah dengan koneksi buruk. Kedua, kesiapan guru yang timpang. Banyak guru merasa terbebani, kurang pelatihan, dan terhambat infrastruktur sekolah yang terbatas. Alih-alih meringankan beban, pengenalan AI tanpa dukungan memadai justru menciptakan stres dan inefisiensi baru.
Maka itu, jalan ke depan bagi Indonesia bukanlah lari cepat, melainkan maraton yang strategis. Kita harus mencontoh pendekatan sistematis Singapura, bukan ketergesa-gesaan Korea Selatan. Dalam pandangan penulis, beberapa langkah konkret berikut harus menjadi prioritas.
Pada akhirnya, keberhasilan integrasi AI tidak diukur dari seberapa cepat kita mengadopsi teknologi, tetapi dari seberapa bijaksana kita membangun fondasi manusia dan seberapa teguh kita memegang prinsip keadilan dalam setiap langkah.
Penulis: Syaeful Bahri
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Kecerdasan buatan (AI) perlahan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Indonesia. Pemerintah menjadikan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan dan
Mengutip dari Oxford Dictionary, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat mengonsumsi konten daring tidak berkualitas

Sekitar pukul 7 pagi, siswa dan orang tua hadir di Makara Art Center Universitas Indonesia dengan perasaan antusias dan anak-anak

IGSBB Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru Inovatif dan Parenting Orang Tua pada tanggal 14–15 Mei 2026 bertempat di Aula

Bandung, 20 April 2026 — Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui Kegiatan Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini pada Sub Kegiatan Sosialisasi

Oleh Maulady Virdausy Fahmy Share: Pelecehan seksual, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, adalah pelanggaran terhadap martabat seseorang serta mengganggu

Oleh Teuku Zulman Sangga Buana Hari kemenangan akan segera tiba. Bagi Ayah dan Bunda, momen Lebaran biasanya identik dengan persiapan