Pelecehan Seksual Bukan Lelucon: Berhenti Memaklumi Perilaku “Enabler” Atas Nama Kasih Sayang

Oleh Maulady Virdausy Fahmy

Share:

Pelecehan seksual, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, adalah pelanggaran terhadap martabat seseorang serta mengganggu ruang amannya. Menganggapnya sebagai lelucon tetap tidak mengubah fakta bahwa tindakan tersebut melewati batas. Bahkan bagi korban, dampaknya bisa berupa trauma mendalam, kecemasan, hingga rasa tidak aman yang berkepanjangan.

Melihat kasus Pelecehan Seksual yang melibatkan mahasiswa dari kampus ternama baru-baru ini, menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kecerdasan emosional dan integritas moral. Hal lain yang menjadi sorotan dari kasus ini adalah sikap orang tua para pelaku. Alih-alih mendukung anak untuk bertanggungjawab atas kesalahannya, mereka memilih sikap melindungi dan seakan membela kesalahan anak.

Ada risiko besar jika orang tua bersikap terlalu protektif atau berusaha menutupi kesalahan anak, misalnya dengan menyalahkan korban atau teknologi. Sikap ini disebut sebagai enabling behavior, yang justru bisa membuat pelaku tidak merasa bersalah dan tidak belajar dari konsekuensi tindakannya. Dalam jangka panjang, sikap ini dapat menghambat rehabilitasi karakter anak tersebut.

Sikap yang cenderung mengentengkan atau membela dalam kasus ini memang sangat disayangkan. Pelecehan seksual secara verbal di ruang digital bukan hal sepele. Bagi korban, mengetahui bahwa diri mereka dijadikan objek fantasi atau dihina secara seksual dalam sebuah grup adalah bentuk teror psikologis. Ketika banyak orang menganggap hal ini hanya candaan grup, mereka secara tidak langsung sedang melakukan normalisasi. Hal terpenting yang harus dipahami bahwa pelecehan verbal adalah tangga pertama menuju kekerasan fisik dalam piramida Rape Culture. Jika tindakan ini tidak diberikan sanksi moral dan sosial yang tegas, pelaku akan merasa bahwa mengobjektifikasi dan merendahkan orang lain adalah hal yang normal dan bisa dimaklumi.

katiekozlowski.com

Dari kasus ini kita belajar bahwa mendidik anak tidak bisa dengan membedakan sikap pengasuhan  dan memiliki anggapan “mendidik anak laki-laki jauh lebih mudah dari anak perempuan”. Masyarakat kita pada umumnya masih dalam pandangan mendidik anak perempuan harus ketat dengan segala aturan dan batasannya, namun lebih kendor terhadap anak laki-laki dengan mengatakan “Namanya juga anak laki-laki.” atau “Boys will be boys.”.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan dalam pola pengasuhan untuk mencegah perilaku rape culture pada anak:

1. Menanamkan Konsep Konsen (Consent) Sejak Dini

Anak perlu memahami bahwa tubuh orang lain adalah milik orang tersebut sepenuhnya. Ajarkan bahwa tindakan apa pun yang melibatkan orang lain harus didasari persetujuan bersama. Ini tidak hanya soal fisik, tapi juga soal privasi, seperti tidak memotret atau membicarakan orang lain tanpa izin.

2. Membangun Empati yang Kuat

Ajarkan anak untuk selalu menempatkan diri di posisi orang lain. Anda bisa memulainya dengan diskusi sederhana: Bagaimana perasaanmu kalau ada orang yang membicarakan hal buruk tentangmu di belakang?” atau “Bagaimana perasaanmu jika ibu atau saudaramu yang diperlakukan seperti itu?”. Empati adalah rem alami bagi seseorang untuk tidak menyakiti orang lain.

3. Literasi Digital dan Etika di Ruang Privat

Banyak anak muda merasa “aman” melakukan hal buruk di grup WhatsApp karena merasa itu ruang tertutup. Penting untuk menekankan bahwa:

  • Privasi bukan berarti tanpa hukum: Sesuatu yang diketik di ruang privat tetap mencerminkan karakter asli seseorang.
  • Jejak digital itu nyata: Apa yang ditulis hari ini bisa menghancurkan masa depan mereka bertahun-tahun kemudian.
  • Integritas: Menjadi orang baik adalah tetap berperilaku benar meski tidak ada orang lain (atau publik) yang melihat.

4. Mendefinisikan Ulang “Maskulinitas” (untuk Anak Laki-Laki)

Dalam banyak kasus grup chat seperti ini, ada dorongan untuk terlihat “keren” atau “jantan” dengan cara merendahkan perempuan. Orang tua perlu mengajarkan bahwa kekuatan seorang pria bukan dilihat dari kemampuannya mendominasi atau melecehkan, melainkan dari kemampuannya untuk menghormati, melindungi, dan bersikap santun.

5. Menjadi Teladan dalam Beperilaku

Anak adalah peniru yang ulung. Jika mereka sering mendengar orang tuanya melontarkan komentar seksis, merendahkan fisik orang lain (body shaming), atau bergosip kasar tentang orang lain, mereka akan menganggap itu sebagai hal yang normal. Pendidikan karakter terbaik dimulai dari apa yang mereka lihat di rumah.

6. Membuka Ruang Komunikasi yang Nyaman

Pastikan anak merasa nyaman untuk bercerita atau bertanya tentang hal-hal sensitif (seperti seksualitas atau pergaulan) kepada orang tua tanpa takut dihakimi. Jika saluran komunikasi di rumah tertutup, mereka akan mencari informasi dan validasi dari lingkaran pertemanan yang mungkin saja memiliki pengaruh negatif.

Mendidik anak untuk memiliki karakter yang kuat memang butuh konsistensi. Yang paling utama adalah mengajarkan mereka untuk berani berkata tidak saat teman-temannya mulai melakukan hal yang salah, dan berani membela mereka yang lemah.

Penulis: Maulady Virdausy Fahmy

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya
Berita Terbaru