Belajar Parenting dari Broken Strings

Oleh Trias Syaifulina

Share:
Freepik

Dalam beberapa bulan terakhir, Broken Strings ramai diperbincangkan di jagat maya. Buku ini dibagikan, dikutip, dan didiskusikan luas bukan hanya oleh pembaca sastra, melainkan juga oleh pendidik, orang tua, dan pemerhati isu anak. Keviralannya tidak lahir dari sensasi, tetapi dari keberanian penulisnya, Aurelie Moeremans, membuka pengalaman personal tentang child grooming, manipulasi emosional, dan proses pemulihan diri secara jujur serta apa adanya.

Di tengah derasnya percakapan publik, Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah menarik dibaca lebih jauh, bukan sekadar sebagai kisah trauma, melainkan sebagai bahan refleksi pendidikan. Buku ini mengajukan pertanyaan penting bagi dunia parenting dan pendidikan karakter: sejauh mana pola asuh dan relasi awal membentuk kerentanan, batas diri, serta cara anak memaknai hubungan dengan orang lain?

Memoar Broken Strings tidak hanya menyuguhkan pengalaman seorang penyintas. Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana pola asuh baik yang hadir maupun yang absen ikut membentuk karakter seseorang, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku dalam relasi yang tidak sehat.

Sebagai guru maupun orang tua, kita kerap menilai relasi bermasalah dari ujung peristiwanya saja. Padahal, Broken Strings mengajak kita mundur beberapa langkah: menengok latar pengasuhan, pengalaman masa kecil, dan kebutuhan emosional yang tidak tertangani. Dari sanalah, benang-benang rapuh itu perlahan terbentuk.

Pola Asuh, Kelekatan, dan Kerentanan Anak

Dalam kisah Aurelie, tergambar sosok remaja yang sejak kecil menghadapi berbagai tantangan: keterbatasan ekonomi keluarga, pengalaman perundungan, tuntutan kemandirian yang datang terlalu cepat, serta dorongan untuk selalu tampak kuat dalam situasi yang sejatinya belum siap. Pola asuh dalam kondisi seperti ini sering kali tidak keliru secara niat, tetapi terbatas secara kapasitas.

Teori kelekatan yang dikemukakan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa relasi emosional awal antara anak dan pengasuh utama membentuk internal working model, yaitu cara anak memandang dirinya dan orang lain. Ketika rasa aman emosional tidak terbentuk secara kokoh, anak cenderung mencari validasi eksternal, kesulitan mengenali batas diri, dan lebih rentan terjebak dalam relasi manipulatif.

Dalam konteks Broken Strings, kerentanan Aurelie terhadap relasi tidak sehat dapat dibaca sebagai kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya terpenuhi sejak dini. Perhatian dari pihak lain meski keliru dan berbahaya terasa bermakna karena hadir mengisi ruang kosong yang lama tak tersentuh. Pada titik ini, pendidikan karakter tidak bisa dimulai dari nasihat moral semata, tetapi dari pengalaman rasa aman yang nyata dalam relasi sehari-hari.

Kisah dalam Broken Strings menunjukkan bahwa luka relasi tidak cukup diselesaikan dengan aturan atau ceramah moral. Anak membutuhkan fondasi nilai yang hidup dalam keseharian. Di sinilah pendekatan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) menemukan relevansinya.

Pelaku Juga Produk Pola Asuh

Tanpa membenarkan kekerasan, Broken Strings juga menyiratkan satu fakta penting: pelaku tidak lahir dari ruang hampa. Sosok Bobby digambarkan memiliki kebutuhan besar akan kontrol, relasi timpang, dan dominasi emosional. Karakter semacam ini sering kali tumbuh dari pola asuh yang gagal menumbuhkan empati dan regulasi emosi secara seimbang.

Tipologi pola asuh yang diperkenalkan oleh Diana Baumrind membantu kita memahami hal ini. Pola asuh yang minim kehangatan emosional atau terlalu longgar terhadap batas kerap menghasilkan individu yang kesulitan membangun relasi sehat, baik karena tidak percaya diri menetapkan batas maupun karena merasa berhak mengontrol orang lain.

Dalam perspektif pendidikan karakter, ini menjadi pengingat utama: relasi tidak sehat sering kali mempertemukan dua luka yang berbeda. Anak yang tidak belajar empati berisiko tumbuh menjadi pelaku, sementara anak yang tidak belajar mengenali batas diri berisiko menjadi korban. Pendidikan karakter, dengan demikian, bukan hanya soal melindungi anak dari bahaya, melainkan juga mencegah anak tumbuh menjadi pribadi yang melukai.

Freepik

Mengapa Pendidikan Karakter Harus Bersifat Holistik

Kisah dalam Broken Strings menunjukkan bahwa luka relasi tidak cukup diselesaikan dengan aturan atau ceramah moral. Anak membutuhkan fondasi nilai yang hidup dalam keseharian. Di sinilah pendekatan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) menemukan relevansinya.

PHBK yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation memandang anak sebagai manusia utuh. Perkembangan emosi, moral, sosial, dan spiritual berjalan beriringan. Nilai karakter tidak dihafalkan, tetapi dialami. Anak belajar tentang hormat dari cara ia dihormati dan belajar batas diri dari pengalaman didengar, bukan dari rasa takut.

Nilai-nilai, seperti percaya diri, tanggung jawab, empati, dan kepedulian bekerja sebagai pelindung yang sering kali tak terlihat. Anak yang terbiasa dihargai emosinya akan lebih peka terhadap relasi yang menekan. Anak yang mengenal nilai dirinya tidak mudah terjebak pada perhatian yang bersyarat.

Parenting sebagai Fondasi Pendidikan Karakter

Broken Strings mengingatkan bahwa parenting adalah fondasi awal pendidikan karakter. Pola asuh bukan hanya membentuk perilaku anak hari ini, tetapi membangun kompas moralnya di masa nanti. Cara orang tua merespons emosi, menetapkan batas yang sehat, dan hadir secara konsisten menentukan apakah anak tumbuh dengan rasa aman atau justru mencari validasi di tempat yang salah.

Dalam kerangka PHBK, pendidikan karakter tidak berhenti di sekolah. Ia perlu sejalan dengan pengasuhan di rumah. Ketika nilai yang sama, kejujuran, hormat, tanggung jawab, dan empati hidup di dua ruang ini, anak memiliki jangkar yang kuat untuk menghadapi relasi di luar dirinya.

Broken Strings bukan sekadar kisah tentang luka masa lalu, melainkan peringatan bagi masa depan. Ia mengajarkan bahwa retaknya karakter sering dimulai jauh sebelum peristiwa besar terjadi, yakni dari kebutuhan emosi yang tak terjawab, pola asuh yang terbatas, dan nilai yang tak sempat ditanamkan.

Belajar parenting dari buku ini berarti berani becermin. Sejauh mana pengasuhan kita sedang membangun karakter yang melindungi. PHBK menjadi ikhtiar penting agar anak tumbuh bukan hanya mampu bertahan, melainkan juga mampu menjaga diri dan orang lain dalam relasi yang sehat. Karakter yang kuat tidak dibentuk setelah luka terjadi, tetapi ditanamkan sejak dini, dengan sadar, utuh, dan penuh empati.

Penulis: Trias Syaifulina
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Rujukan
Bowlby, J. 1988. A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development.

Baumrind, D. 1991. The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. Journal of Early Adolescence.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya
Berita Terbaru