Belajar Sepanjang Hayat dalam Bingkai Heutagogi: Kemandirian Belajar dan Keberanian Saling Menumbuhkan dalam Kebaikan

Oleh Yudha Aviratri

Share:
IHF/Bayu Suwardani

Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat. Dosen juga berkontribusi untuk menginspirasi dan menyemai bibit perubahan dalam jiwa para mahasiswa. Semangat ini tampak nyata dalam praktik pembelajaran berbasis heutagogi, sebuah pendekatan yang menempatkan kemandirian, refleksi diri, dan kolaborasi sebagai inti dari proses belajar.

Setiap komponen dalam pembelajaran bukan hanya dipandang sebagai objek yang statis, tetapi ditumbuhkan jiwanya untuk terus belajar. Mereka diharapkan mampu mengisi ruang-ruang waktu untuk produktif dalam hidupnya. Hal ini berlaku bukan hanya di kehidupan kampus, tetapi juga dalam konteks keluarga dan masyarakat.

Menurut Hase dan Kenyon (2000), penggagas konsep heutagogi, pendekatan ini adalah “the study of self-determined learning”—yaitu pembelajaran yang menekankan pada kemampuan individu untuk mengatur sendiri tujuan, proses, dan penilaiannya. Dengan demikian, lahir kesadaran belajar dari dalam diri bukan karena paksaan eksternal. Sementara itu, Blaschke (2012) menambahkan bahwa heutagogi menuntut pendidik untuk menjadi fasilitator refleksi dan pengalaman, bukan sekadar penyampai pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan tinggi, konsep heutagogi bermakna bahwa dosen, rekan sejawat, dan mahasiswa adalah komunitas pembelajar yang saling menguatkan. Tidak ada pembatas hierarki; yang ada adalah kemitraan dalam menumbuhkan nilai, ilmu, dan kebaikan. Bahkan dapat berdiskusi dalam ruang kelas maupun di lorong-lorong ruangan kampus, selalu berorientasi untuk mendorong daya cipta.

Melalui refleksi bersama dan diskusi sejawat, para dosen menyadari bahwa nasihat bukanlah bentuk koreksi semata, melainkan sarana tumbuh bersama dalam kebaikan. Ketika seorang rekan memberi masukan terhadap cara mengajar atau pendekatan kepada mahasiswa, hal itu tidak lagi dipandang sebagai kritik, tetapi sebagai bentuk kasih profesional yang bertujuan memperbaiki kualitas pembelajaran.

Pendekatan heutagogi juga mendorong dosen untuk menciptakan suasana kelas yang memungkinkan mahasiswa menjadi self-determined learners. Mahasiswa diberi ruang untuk menentukan topik belajar, mengevaluasi hasil, bahkan memberi umpan balik terhadap proses pembelajaran dosen. Dalam praktiknya, dosen dan mahasiswa sama-sama belajar tentang tanggung jawab, empati, dan kesadaran diri—nilai-nilai yang juga berlaku dalam hubungan antarrekan kerja. Rekan sejawat yang menasihati dengan baik berperan seperti learning partner, bukan pengawas. Mereka membantu satu sama lain untuk terus memperbaiki diri, memaknai pengalaman mengajar, dan menjaga orientasi spiritual dalam profesi pendidik.

Bagi pimpinan lembaga, sangat berperan dalam memberikan teladan. Apabila menasihati bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan kebijaksanaan dan kasih. Sikap tersebut menjadikan nasihat terasa menumbuhkan, bukan menekan, menyalahkan, atau bahkan menghakimi. Diskusi pun perlu dipilah, sebagaimana halnya para dosen yang dituntut untuk memilah kata yang menumbuhkan optimisme dalam jiwa mahasiswa yang sedang belajar. Inilah wujud nyata dari kepemimpinan yang belajar dan mengajar dengan hati—menjadikan nasihat sebagai bahasa kasih, bukan penghakiman.

IHF/Bayu Suwardani

Dari pandangan pendidikan holistik dalam mata kuliah Agama Membentuk Karakter di STPHBK ada pengaplikasian heutagogi yang diteladani oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini, Rasulullah melakukan tiga peran (sebagaimana pembelajaran dalam heutagogi). Nabi Muhammad mengoptimalkan perannya, baik sebagai guru, sebagai teman, maupun sebagai murid. Saat menjadi guru, Rasulullah menjadi sumber belajar bagi para sahabatnya saat itu dan bagi seluruh umat manusia. Rasulullah merupakan seorang guru yang bisa membuat para sahabatnya tawadhu (rendah hati) dalam memuliakan ilmu yang disampaikan dalam majelis.

Rasulullah paling mampu menempatkan diri sebagai teman yang asyik dan memperlakukan orang di sekitarnya secara berbeda sesuai porsi yang patut dan diharapkan temannya tersebut tanpa membuat canggung atau risih orang di sekitarnya.

Sejatinya setiap pembelajaran membutuhkan bimbingan agar memperoleh keberkahan ilmu yang sedang dipelajarinya, dengan menanamkan kepercayaan dan kesantunan terhadap orang yang dititipkan ilmu oleh Allah. Selain itu, Rasulullah juga berperan sebagai teman dekat. Beliau paling tahu setiap potensi yang dimiliki oleh para sahabatnya. Rasulullah juga bercanda untuk mencairkan suasana dan beremosi positif sebagai teman yang menyenangkan.

Rasulullah paling mampu menempatkan diri sebagai teman yang asyik dan memperlakukan orang di sekitarnya secara berbeda sesuai porsi yang patut dan diharapkan temannya tersebut tanpa membuat canggung atau risih orang di sekitarnya. Sosok pemimpin yang luar biasa ini bukanlah sosok yang sombong dan enggan meminta pendapat walau keilmuannya sudah tinggi. Rasulullah memahami bahwa ada pesan Allah di setiap ilmu yang Allah titipkan pada hamba-Nya. Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya dan meminta dibacakan ayat Al-Quran hingga beliau meneteskan air mata.

Rasulullah tetap mencontohkan pentingnya ruang dialog dan musyawarah. Beliau melibatkan para sahabat ketika akan memilih utusan yang tepat untuk berdiplomasi dengan para raja dunia yang memimpin peradaban saat itu. Adapun terkait dengan nasihat dalam kebaikan dari perspektif teori heutagogi, Rasulullah Saw. merupakan contoh pribadi insan kamil—manusia sempurna—yang menegaskan bahwa ad-dīn an-naṣīḥah, agama itu adalah nasihat. Menurut Hany Maria, M.Si., salah satu dosen pengampu mata kuliah Agama Membentuk Karakter, makna ad-dīn an-naṣīḥah bagi orang yang beragama adalah “keinginan yang tulus dari seseorang yang menerapkan ajaran agama untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama, sebagaimana ia menginginkan kebaikan itu untuk diri sendiri.”

Seorang mukmin sejati tidak akan membiarkan saudaranya berada dalam kesedihan, kesakitan, apalagi keterpurukan moral. Ia tidak mengizinkan masuknya perasaan iri, dengki, apalagi kebinasaan dalam relung hatinya kepada orang lain di sekitarnya. Makna ad-dīn an-naṣīḥah bagi manusia rahmatan lil alamin ialah usaha untuk menyebarkan kasih sayang dan doa, serta menyampaikan nasihat kebenaran dengan hikmah atau menunjukkan manfaat dari setiap kebaikan yang disampaikan.

Dalam peran apapun yang ada di perguruan tinggi, baik posisi dosen, pimpinan lembaga, rekan sejawat, ataupun mahasiswa kita seharusnya menerapkan prinsip heutagogi ini agar bisa menjadi pribadi yang bermanfaat serta membawa pengaruh kebaikan yang luas. Melalui pendekatan heutagogi, kampus membangun ekosistem belajar yang hidup, di mana dosen dan pimpinan bukan sekadar mengajar dan menuntaskan tridarma perguruan tinggi, tetapi juga terus bertumbuh; dan di mana nasihat menjadi bahasa kasih, bukan penghakiman. Mahasiswa juga bukan semata-mata cawan yang menerima ilmu dari dosen semata, tapi juga menjadi jiwa yang bertumbuh dari interaksi belajar di kelas, lingkungan kampus, dan di masyarakat. Dari ruang dosen hingga ruang kelas, semangat belajar dan saling menasihati dalam kebaikan menjadi denyut yang menghidupkan nilai pendidikan sesungguhnya.

Penulis: Yudha Aviratri
Editor: Dewanti Nurcahyani

Rujukan

Hase, S., & Kenyon, C. (2000). From Andragogy to Heutagogy. UltiBASE Articles, RMIT University.

Blaschke, L. M. (2012). ‘Heutagogy and lifelong learning: A review of heutagogical practice and self-determined learning’. The International Review of Research in Open and Distance Learning, 13(1), 56–71.

Share:
Artikel Lainnya
Berita Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *