Beasiswa dan Masa Depan SDM Indonesia: Mengapa Karakter Menjadi Fondasi Utama?

Oleh Teuku Zulman Sangga Buana

Share:
Freepik

Belakangan ini, ruang publik Indonesia dihangatkan oleh perdebatan mengenai seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui media sosial, ia secara terbuka menyatakan kebanggaannya atas kewarganegaraan asing anaknya sembari memberikan pernyataan yang terkesan merendahkan status kewarganegaraan Indonesia.

Reaksi keras pun bermunculan, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Pernyataan itu dinilai tidak mencerminkan nilai nasionalisme yang selama ini dilekatkan kepada kaum penerima beasiswa dari dana publik.

Apalagi, dalam konteks LPDP, status sebagai penerima beasiswa membawa konsekuensi menjadi generasi intelektual masa depan harapan bangsa. Negara membiayai pendidikan para awardee (penerima beasiswa) agar kelak mereka dapat berkontribusi kepada masyarakatnya.

Ini selaras dengan pandangan seorang intelektual terkemuka Indonesia dalam Cendekiawan dan Kekuasaan, Daniel Dhakidae, “Demikian pun, malah yang paling utama, kesadaran kebangsaan dinilai menjadi puncak-puncak kesadaran yang harus dipupuk justru oleh kaum cendekiawan nasionalis (2003: 39).”

Penerima beasiswa adalah simbol harapan bangsa. Akan tetapi, fenomena di atas menunjukkan adanya “retak” dalam sistem pendidikan Indonesia. Isu ini tidak dipahami semata sebagai persoalan pilihan pribadi, tetapi sebagai persoalan moral yang menyentuh relasi antara negara dan warga terdidik yang memperoleh pembiayaan dari uang publik.

Di tengah gegap gempita beasiswa yang menjanjikan akses ke universitas-universitas terbaik dunia, kita sedang berlomba mengejar kompetensi global. Namun, kita sering kali lupa bertanya akan digunakan untuk apa gelar mentereng itu nantinya?

Kita harus berani jujur melihat realitas. Selama ini, makin tinggi jenjang sekolah, pembahasan mengenai karakter justru makin jarang dibicarakan secara serius. Padahal, kita telah melihat apa yang terjadi ketika sumber daya besar seperti dana negara diberikan kepada mereka yang secara kognitif cerdas, namun tidak memiliki keselarasan antara prinsip moral dan perilaku.

Sebuah peradaban akan menurun kualitasnya apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu.

Karakter Adalah Fondasi Utama

Karena itu, Indonesia Heritage Foundation (IHF) melihat tantangan terbesar abad ke-21 bukanlah kurangnya orang pintar, tetapi kesenjangan antara apa yang diketahui (moral knowing) dan apa yang dilakukan (moral action). Banyak orang tahu bahwa korupsi itu salah atau integritas itu penting. Namun, mengapa perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diketahui?

Ratna Megawangi, pendiri IHF, membuka pembahasan dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa dengan bertanya mengapa pendidikan karakter sangat penting dalam membangun peradaban?

Menurutnya, “Sebuah peradaban akan menurun kualitasnya apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman, dan sejahtera” (2016: 1).

Karakter tidak bisa dibangun hanya dengan teori. Membangunnya harus dengan menyentuh tiga aspek fundamental yang saling terintegrasi. Pertama, knowing the good atau mengetahui apa yang benar. Ini sudah banyak sekali diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Kemudian, loving and desiring the good (mencintai). Tanpa rasa cinta pada kebaikan, pengetahuan moral tidak akan berfungsi secara efektif. Terakhir, acting the good (mengerjakan). Karakter ibarat otot sehingga butuh latihan dan praktik yang terus-menerus sampai ia menjadi kebiasaan.

Penanaman 9 Pilar Karakter dilakukan oleh IHF dengan menggunakan metode knowing the good, reasoning the good, feeling the good, loving the good, dan acting the good. Strategi ini menanamkan karakter dengan cara dan alasan yang dipahami oleh otak serta dirasakan oleh hati sehingga seseorang terdorong untuk melakukan nilai karakter tersebut dengan penuh kesadaran.

Freepik

PHBK dan 9 Pilar Karakter

Melalui model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK), IHF menanamkan 9 Pilar Karakter, seperti tanggung jawab dan berkata bijak menggunakan metode yang menyentuh otak dan hati serta ditanamkan sejak dini. Tujuannya agar seseorang melakukan kebajikan berdasarkan motivasi internal, bukan sekadar takut pada sanksi eksternal.

Melalui model PHBK, IHF berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan pendidikan Indonesia. Karakter tidak hanya diajarkan sebagai teori di kelas, tetapi diintegrasikan dalam setiap aktivitas, diperkuat lewat keteladanan guru, dan dibiasakan dalam lingkungan sosial yang positif.

Kita tidak bisa mengharapkan karakter seseorang berubah secara instan saat mereka dewasa atau saat sudah menyandang gelar dari luar negeri. Pembentukan “otot karakter” harus dimulai sejak usia dini, saat fondasi emosional anak sedang dibentuk.

Pendidikan karakter hendaknya dimulai dan berlangsung sejak usia muda atau usia yang lazim disebut oleh para psikolog sebagai usia emas (golden age). Usia tersebut terbukti sangat menentukan bagi seorang anak dalam mewujudkan potensi yang dimilikinya.

Beasiswa adalah investasi luar biasa untuk masa depan SDM Indonesia. Namun, prestasi akademik hanyalah pintu masuk. Yang menentukan arah kontribusi dan keberlanjutan bangsa ini adalah karakter para penyandangnya. Masa depan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh seberapa tangguh kita menyelaraskan perilaku dengan prinsip-prinsip moral yang kita yakini.

Sebab itulah, pendidikan karakter merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Dengan memberikan perhatian yang serius pada pendidikan karakter sumber daya manusia, kita dapat mencetak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Penulis: Teuku Zulman Sangga Buana

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya
Berita Terbaru