Mendidik Gen Z dan Generasi Alfa
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Oleh Syaeful Bahri
Dunia kerja masa depan yang dibentuk oleh disrupsi teknologi dan ketidakpastian ekonomi tidak lagi membutuhkan “bank data berjalan,” tetapi individu yang adaptif, kreatif, dan kolaboratif. Tulisan ini menegaskan bahwa untuk mempersiapkan generasi Z (lahir 1995—2010) dan generasi alfa (lahir setelah 2010)—digital natives sejati—sistem pendidikan harus bergeser secara fundamental dari hafalan (hard skills) ke pengembangan keterampilan insani (soft skills).
Tuntutan dunia kerja modern secara tegas memprioritaskan soft skills. World Economic Forum memproyeksikan bahwa keterampilan yang paling dicari pada tahun 2023 adalah pemikiran analitis, kreativitas, ketahanan, dan kolaborasi. Studi dari Harvard, Carnegie, dan Stanford bahkan menyimpulkan bahwa 85% kesuksesan karier ditentukan oleh keterampilan nonteknis (soft skills). Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin, seperti kecerdasan emosional dan pemecahan masalah kompleks.
Menjawab tantangan ini, Indonesia meluncurkan Kurikulum Merdeka yang secara konseptual sudah visioner dengan fokus pada fleksibilitas dan pembelajaran berpusat pada siswa. Namun, implementasinya terkendala oleh ekosistem yang belum siap. Masalah utamanya adalah sistem penilaian yang masih terpaku pada nilai kuantitatif dan peringkat, ketidaksiapan guru, serta infrastruktur yang tidak merata.
Sebagai solusi pedagogis, pembelajaran berbasis proyek (PjBL) menjadi jembatan paling efektif. PjBL secara inheren melatih keterampilan nonteknis dengan menempatkan siswa dalam situasi yang menuntut mereka untuk berkolaborasi, berkomunikasi, dan memecahkan masalah nyata. Praktik baik di berbagai sekolah di Indonesia telah membuktikan efektivitas PjBL dalam menumbuhkan kreativitas dan penalaran kritis.
Keberhasilan IHF menunjukkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi “sistem operasi” sekolah, bukan sekadar “aplikasi” tambahan.
Membudayakan Keterampilan Nonteknis
Model pendidikan yang berhasil secara holistik telah diterapkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF) melalui Sekolah Karakter. Dengan landasan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) dan 9 Pilar Karakter, IHF membudayakan keterampilan nonteknis melalui rutinitas harian yang konsisten, dari cara guru menyambut siswa hingga metode penilaian autentik berbasis portofolio. Keberhasilan IHF menunjukkan bahwa pendidikan karakter harus menjadi “sistem operasi” sekolah, bukan sekadar “aplikasi” tambahan.
Transformasi ini tidak akan berhasil tanpa peran serta orang tua dan masyarakat. Obsesi pada peringkat akademik harus digantikan dengan apresiasi terhadap proses dan pertumbuhan karakter anak. Orang tua perlu menjadi teladan, membangun dialog terbuka, dan bersinergi dengan sekolah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan anak secara utuh.
Sebagai penutup, untuk menyiapkan generasi Z dan generasi alfa, diperlukan sebuah reformasi sistemis. Perubahan fundamental tersebut mencakup tiga pilar, yaitu pemerintah harus merombak sistem penilaian dan investasi pada guru, institusi pendidikan harus mengadopsi PjBL serta mencontoh model IHF, dan orang tua harus mengubah pola pikir untuk mendukung pengembangan keterampilan masa depan.
Penulis: Syaeful Bahri
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Kecerdasan buatan (AI) perlahan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Indonesia. Pemerintah menjadikan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan dan
Mengutip dari Oxford Dictionary, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat mengonsumsi konten daring tidak berkualitas

Sekitar pukul 7 pagi, siswa dan orang tua hadir di Makara Art Center Universitas Indonesia dengan perasaan antusias dan anak-anak

IGSBB Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru Inovatif dan Parenting Orang Tua pada tanggal 14–15 Mei 2026 bertempat di Aula

Bandung, 20 April 2026 — Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui Kegiatan Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini pada Sub Kegiatan Sosialisasi

Oleh Maulady Virdausy Fahmy Share: Pelecehan seksual, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, adalah pelanggaran terhadap martabat seseorang serta mengganggu

Oleh Teuku Zulman Sangga Buana Hari kemenangan akan segera tiba. Bagi Ayah dan Bunda, momen Lebaran biasanya identik dengan persiapan