Luka Pengasuhan: Bayangan Masa Lalu yang Membentuk Masa Kini

Oleh Yudha Aviratri

Share:
Freepik

Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan pasangannya. Namun, tanpa disadari, pengalaman masa kecil mereka yang penuh luka sering kali ikut terbawa ke dalam cara mengasuh dan menjalin relasi. Luka pengasuhan bukan hanya soal kekerasan fisik. Namun, bisa dalam bentuk pengabaian emosional, ucapan yang melukai, pengasuhan yang terlalu keras atau justru terlalu permisif, hingga dapat menyebabkan stres dan trauma orang tua yang tidak pernah terselesaikan.

Trauma dan pola asuh tidak sehat di masa lalu orang tua dapat menyebabkan pengulangan pola yang serupa pada hubungan mereka saat ini, baik dalam relasi pasangan maupun pengasuhan anak. Dalam kehidupannya, mereka mungkin menjadi terlalu mengontrol, mudah insecure, atau justru kesulitan mengatur emosi. Pola ini tidak hanya memengaruhi hubungan dengan pasangan, tetapi juga cara mereka berinteraksi dengan anak. Dengan kata lain, luka masa lalu bisa berdampak kuat dalam pengasuhan masa sekarang.

Shpigel dkk. (2025) mengutarakan temuan yang menunjukkan bahwa orang tua dengan riwayat gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) sebenarnya sangat termotivasi untuk melakukan yang terbaik bagi anak mereka. Namun, upaya ini sering terhambat oleh disregulasi emosi atau usaha meregulasi emosi yang berlebihan. Di sisi lain, perasaan “tidak kompeten” kerap muncul sehingga menambah beban psikologis dalam peran sebagai orang tua.

Menyembuhkan Luka Pengasuhan

Seorang pakar hukum ekonomi internasional Van der Ven yang juga banyak melakukan penelitian kolaboratif mengatakan jika penyembuhan luka pengasuhan bukan sekadar melupakan masa lalu. Hal ini merupakan perjalanan panjang yang melibatkan perbuatan memaafkan atau pengampunan, terapi, dan pembelajaran pola baru yang lebih sehat.

Perbuatan pemaafan misalnya, tidak terjadi sekali lalu selesai. Hal ini berawal dari keputusan sadar untuk memahami orang tua dalam konteks kemanusiaannya, lalu dibangun melalui proses perkembangan pribadi, dukungan lingkungan yang pro-pemaafan, dan kesediaan melihat luka orang tua dalam konteks budaya maupun psikologisnya.

Dalam sebuah jurnal, Shpigel dkk. (2025) mengatakan tentang psikoterapi, yaitu pelayanan psikologi yang dilakukan oleh pakar kepada pasien yang memerlukan penyembuhan diri secara psikologi yang mengintegrasikan peran pengasuhan, terbukti bermanfaat. Menetapkan tujuan terapi yang berkaitan dengan pengasuhan bisa memotivasi orang tua untuk lebih konsisten. Sementara, interaksi sehari-hari dengan anak dapat menjadi “cermin” yang menunjukkan kondisi batin mereka.

Freepik

Mengutip dari Aprianti dkk. (2025), penting untuk mengingat bahwa luka pengasuhan bisa diputus. Gaya pengasuhan yang menunjukkan otoritas hangat namun tegas, dukungan pasangan, serta lingkungan keluarga dan komunitas yang sehat adalah faktor pelindung yang sangat berharga. Dalam konteks lokal, kesalehan dan nilai budaya juga dapat menjadi sumber kekuatan dalam proses penyembuhan. Di Indonesia dan Asia Tenggara, kebutuhan akan intervensi praktis yang sesuai konteks lokal masih sangat besar.

Luka pengasuhan adalah warisan yang bisa terbawa lintas generasi, tetapi bukan takdir yang harus diulang. Dengan kesadaran, proses penyembuhan, dan dukungan yang tepat, orang tua memiliki kesempatan memilih jalan baru, yaitu mengasuh dengan penuh kasih, membangun relasi yang sehat, dan memberi peluang pada anak untuk masa depan yang lebih bebas dari bayangan luka masa lalu.

Dua progam studi di Sekolah Tinggi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (STPHBK), yaitu program studi PG-PAUD dan PGSD mempelajari lebih dalam cara-cara terbaik dalam pengasuhan dalam mata kuliah Pengasuhan Holistik Anak Berbasis Karakter, di antaranya pola pengasuhan, relasi positif orang tua, hubungan keluarga, serta gaya dan dampak pengasuhan.

Penulis: Yudha Aviratri, M.Pd., Ketua Program Studi PG-PAUD STPHBK.
Editor: Dewanti Nurcahyani

Rujukan

  • Aprianti, I., Yandri, H., Vitaloka, D., & Lestari, R. 2025. Nurturing Emotional Foundations: Investigating the Impact of Parenting Style and Parenting Stress on Early Childhood Emotional Well-Being. Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini.
  • Desiningrum, D. R., Hermawati, E., Somantri, K., & Karim, M. 2025. Parenting stress, resilience, religiosity, and emotional competence in caregivers of children with special needs. Jurnal Penelitian Psikologi.
  • Granner, S. M., Narayan, A. J., Lieberman, A. F., & Dimidjian, S. 2023. Childhood Maltreatment History and Trauma-Specific Predictors of Parenting Stress in New Fathers. Infant Mental Health Journal.
  • Shpigel, M. S., Dekel, R., & Solomon, Z. 2025. Understanding and Supporting Parenting in Parents Seeking PTSD Treatment: A Qualitative Study. European Journal of Psychotraumatology.
  • Suprayogi, B., Bintari, D., Yuzak, R., Sugiarti, N., & Suhariadi, F. 2025. Constructing The Meaning of Childhood Parenting Wounds on Self-Management Quality. Journal of Educational Management and Research.
  • Van der Ven, C., Stroebe, M., & Schut, H. 2024. Towards A Fuller Understanding of The Healing of Childhood Parental Wounds: An International Study of Adult Children’s Forgiveness. Journal of Family Studies.
Share:
Artikel Lainnya
Berita Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *