Adakah Burung yang Bernama Ababil?

Oleh Muhammad Iqbal

Share:
Freepik

Sudah menjadi kewajiban dan menjadi kebutuhan setiap umat Islam untuk mencintai dan meneladan Rasulullah karena beliaulah yang akan memberikan syafaat (pertolongan) di akhirat kelak dan agar hidup kita di dunia selamat. Di antara cara kita untuk bisa mencintai dan meneladan Rasulullah adalah dengan mempelajari kehidupannya yang banyak tertuang dalam buku sejarah biografi beliau atau dikenal dengan sirah nabawiah.

Setiap tahun umat Islam memperingati hari kelahiran Rasulullah yang dikenal dengan maulid nabi. Peringatan maulid nabi merupakan ekspresi cinta kepada Rasulullah. Namun, kadang kala acara tersebut diisi dengan hal yang jauh dari esensi kecintaan kepada Rasulullah. Para penceramah cenderung membahas hal di luar sejarah. Padahal, maulid merupakan momen yang tepat untuk menjelaskan aspek sejarah kehidupan Rasulullah agar umat dapat mengetahui sejarah dan meneladan kehidupan beliau.

Sementara itu, ada sebagian penceramah yang menjelaskan sejarah Rasulullah, tetapi dengan data yang kurang valid. Misalnya, saat menjelaskan tentang penyerangan pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah sering kali ada narasi tentang burung ababil. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah burung ababil itu ada? Untuk itu, pada kesempatan ini penulis akan mencoba membahas tentang burung ababil.

Sebagaimana yang sudah diketahui bahwa sebelum Rasulullah lahir ada sebuah peristiwa besar yang terjadi di Kota Makkah dan termaktub dalam surah Al-Fil. Ka’bah ingin dihancurkan oleh seorang raja yang berkuasa di Yaman bernama Abrahah al-Asyrom.

Dikisahkan, Raja Abrahah membuat sebuah bangunan untuk ibadat kaumnya. Setelah bangunan tersebut rampung, Abrahah mengirim surat kepada Raja Najasyi yang ada di Habasyah (Etiopia). Dalam surat tersebut, ia menulis, “Aku telah membangun untuk Baginda Raja sebuah gereja yang belum pernah dibangun seindah dan semegah itu sebelumnya oleh siapa pun dan aku tidak berhenti melakukan segala upaya sampai orang-orang Arab berkunjung untuk melakukan ibadah haji ke sana.”

Namun, surat Abrahah itu tercium oleh penduduk Makkah yang membuat mereka tersinggung dan marah. Hingga salah seorang dari suku Kinanah pergi ke bangunan yang dibuat Abrahah itu, lalu mengotorinya (Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah Volume 15: 616).

Abrahah pun marah atas kejadian itu. Ia pun memimpin dan mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju Makkah, mereka dihadang oleh sekumpulan burung yang membawa batu dan meluluhlantakkan mereka.

Padahal, jika kita perhatikan lebih dalam artinya bukanlah demikian. Istilah thayran ababil artinya adalah burung yang berbondong-bondong.

Freepik

Burung yang Berbondong-Bondong

Dalam masyarakat kita hari ini, kisah tentang pasukan Abrahah yang diserang oleh sekumpulan burung diartikan berbeda. Kata طَيْراً اَباَبِيْلَ (thayran ababil) diartikan sebagai burung ababil yang serupa dengan nama-nama jenis burung. Padahal, jika kita perhatikan lebih dalam artinya bukanlah demikian. Istilah thayran ababil artinya adalah burung yang berbondong-bondong.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Quraisy Shihab, Allah mengirimkan berupa burung dengan jumlah yang banyak lagi berbondong-bondong (Tafsir Al-Misbah Volume 15: 620). Kemudian, burung-burung tersebut melempari pasukan Abrahah dengan tanah yang telah membatu.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, kata ababil juga diartikan dengan berbondong-bondong. Ibnu Katsir menukil banyak pendapat para ulama tentang kata ababil. Di antaranya, pendapat Ibnu Basysyar yang mengatakan bahwa burung yang dimaksud adalah burung yang muncul dari laut yang paruh dan kedua cakarnya semuanya berwarna hitam. Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa burung-burung itu datang membuat barisan yang bersaf-saf, kemudian mengeluarkan suara dan menjatuhkan batu-batu yang ada pada paruh dan kedua kakinya (ibnukatsironline.com).

Selain itu, Hasan al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ababil ialah yang banyak jumlahnya. Begitu juga, Mujahid mengatakan bahwa ababil artinya berpencar, berturut-turut, dan berbondong-bondong.

Maka dari itu, burung ababil itu bukanlah nama seekor burung. Istilah tersebut berarti burung-burung yang jumlahnya sangat banyak. Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa yang menghancurkan pasukan Abrahah adalah burung yang bernama burung ababil, tetapi dapat dikatakan bahwa sekumpulan burunglah yang menghancurkan Abrahah dan pasukannya itu.

Penulis: Muhammad Iqbal, S.E.I.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor dan Universitas Ibn Khaldun Bogor. Saat ini ia bekerja sebagai Guru Agama Islam, Sekolah Karakter Cimanggis dan Guru Boys Talk Sekolah Karakter.

Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Penafian (disclaimer): Isi artikel ini menjadi tanggung jawab penulis.

Share:
Artikel Lainnya
Berita Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *