Mendidik Gen Z dan Generasi Alfa
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Oleh Zulfa Yuniarti
Sudah berapa lama Anda terakhir kali menulis tangan? Apakah hari ini, kemarin, seminggu yang lalu, atau bahkan sudah lupa rasanya menulis tangan? Pada era digital seperti sekarang, kebiasaan menulis tangan perlahan mulai ditinggalkan. Kehadiran dan perkembangan beragam teknologi, seperti ponsel pintar, komputer, dan iPad atau tablet, telah banyak menggantikan rutinitas harian kita, dari ruang kelas hingga ruang rapat.
Kebiasaan tradisional lambat laun mulai ditinggalkan, orang-orang beralih pada cara yang lebih efisien dan lebih cepat. Alih-alih menulis dengan tangan, banyak orang kini lebih memilih mengetik di papan tik (keyboard), mencatat di ponsel, atau bahkan menggunakan alat bantu berbasis suara dan kecerdasan buatan (AI). Hanya dengan berbicara, tulisan dapat langsung tersusun rapi di layar komputer.
Teknologi memang menawarkan efisiensi dan kemudahan. Teknologi mampu menjalankan fungsi dasar tulisan sebagai bentuk komunikasi dan media untuk menuangkan gagasan. Namun, jika dilihat lebih jauh, menulis tangan memiliki nilai yang lebih dari sekadar fungsinya sebagai media komunikasi.
Dulu, kebiasaan menulis tangan biasa dijumpai dalam kegiatan surat-menyurat, menulis buku harian, mengerjakan tugas, menulis indah, atau sekadar mencatat apa yang sedang dipelajari. Kini, Kebiasaan ini makin tergerus zaman. Ada banyak faktor pendukung yang terjadi, salah satunya adalah pola kehidupan yang terus berubah.
Jika hal ini terus-menerus diabaikan, lambat laun anak-anak hingga orang dewasa akan makin jauh dari kebiasaan tulis-menulis. Kemampuan menulis tangan pun akan menurun.
Benarkah Menulis Tangan Sudah Ditinggalkan?
Banyak orang beranggapan bahwa menulis tangan menghabiskan banyak waktu, perlu upaya yang lebih banyak. Hal ini dinilai tidak ramah lingkungan di tengah kebiasaan nirkertas (paperless) yang makin populer.
Dilansir dari laman cxomedia.id, Anastasya Lavenia mengungkapkan bahwa terakhir kali ia menulis tangan sejak ia lulus di bangku kuliah adalah dua tahun terakhir. Menurutnya, setelah ia bekerja, pulpen dan buku catatan nyaris tidak pernah disentuh lagi. Padahal, sebelumnya, menulis merupakan salah satu kegiatan yang ia sukai karena mencatat membuat otaknya dapat lebih mudah memahami pelajaran dengan baik.
Lantas, apa yang harus dilakukan agar kebiasaan menulis tangan kembali diminati?
Sebuah studi dalam Frontiers in Psychology, Van der Weel dan Van der Meer (2024) menunjukkan bahwa menulis dengan tangan alih-alih mengetik di papan tik dapat meningkatkan konektivitas otak. Dalam penelitian itu, 36 mahasiswa diminta menulis atau mengetik kata-kata yang berhubungan dengan permainan pictionary (tebak kata dengan menggambar).
Kata-kata tersebut merupalan kata benda umum yang dapat divisualisasikan atau digambar menggunakan pena digital pada perangkat layar sentuh versus mengetik menggunakan papan tik. Kemudian, aktivitas otak 36 mahasiswa itu direkam secara waktu nyata (real time) menggunakan teknik elektroensefalogram (EEG) atau rekam gelombang otak.
Dalam penelitian ini, EEG digunakan untuk melihat pola konektivitas otak saat peserta menulis tangan atau mengetik sehingga peneliti bisa mengetahui bagian otak mana yang lebih aktif dan bagaimana area-area tersebut saling terhubung. Hasilnya, otak lebih aktif dan saling terhubung saat peserta menulis tangan daripada saat mengetik. Hal ini dapat mendukung proses belajar, menghafal, dan memahami informasi secara lebih menyeluruh.
“Hal yang paling mengejutkan adalah seluruh otak aktif saat mereka menulis dengan tangan. Sementara, area yang jauh lebih kecil aktif saat mereka mengetik. Ini menunjukkan bahwa saat menulis dengan tangan, Anda menggunakan sebagian besar otak untuk menyelesaikan pekerjaan,” tulis peneliti.
Meski teknologi terus berkembang, tulisan tangan tetap penting, khususnya dalam mendorong kreativitas, fokus, dan ingatan, terutama di kalangan pelajar atau mahasiswa.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, dalam sebuah wawancara yang diunggah Olenka menyatakan generasi muda bisa kembali membiasakan diri untuk membaca buku cetak dan menulis dengan tangan. “Generasi saat ini tidak mempunyai daya ingat yang kuat daripada generasi sebelumnya karena terlalu cepat menggunakan teknologi digital,” ujarnya.
Berdasarkan ilmu neurologi, seseorang yang terbiasa menulis tangan cenderung lebih cerdas jika dibandingkan seseorang yang kerap menulis dengan bantuan alat digital. Ia juga mencontohkan, negara-negara, seperti Skandinavia dan Inggris mulai kembali mendorong kebiasan membaca buku dan menulis tangan dalam sistem pendidikannya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga menyuarakan pentingnya menulis tangan. Terlihat dalam beberapa wawancara dan pertemuan, beliau selalu membawa buku catatan kecil dan pena di tangannya. “Menulis adalah bagian dari berpikir,” ungkapnya.
Menulis langsung di buku catatan memiliki peran dan dampak yang besar terhadap kinerja otak, terutama dalam proses memahami dan kemampuan mengingat. Menurutnya, ketika menulis tangan, otak terlibat lebih aktif dibandingkan ketika mengetik.
Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian yang mengungkap keunggulan menulis tangan dibandingkan mengetik. Salah satu penelitian yang disebutkan melibatkan mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang menulis tangan dan kelompok yang menulis menggunakan laptop, mereka diuji dengan tes yang sama. Hasilnya membuktikan mahasiswa yang menulis tangan memperoleh skor yang lebih tinggi, yaitu 35% dari mahasiswa yang menulis menggunakan laptop.
Ketika menulis tangan, otak berpikir dua kali lebih keras untuk membentuk huruf, menghubungkan kata, serta menyusun kalimat menjadi lebih mudah dipahami oleh si penulis alih-alih mengetik di papan tik yang dapat menyalin lebih cepat tanpa benar-benar memproses informasi yang didapat. Hal ini yang membuat tulisan tangan dapat membuat informasi lebih melekat dalam ingatan dibandingkan mengetik di papan tik.
Pada era digital, mempertahankan menulis tangan menjadi sangat penting, terutama di lingkungan sekolah. Namun, penting juga meningkatkan kemampuan literasi digital saat ini.
Mengetik memang lebih cepat dan praktis dalam banyak bidang. Dengan mengetik, seseorang dapat lebih mudah dan cepat dalam mencatat informasi dan mengerjakan banyak pekerjaan. Namun, kecepatan belum tentu sejalan dengan pemahaman yang didapat.
Anak-anak maupun orang dewasa dapat menulis tangan ataupun mengetik bergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan disesuaikan dengan kondisi saat itu. Dengan demikian, menulis dan mengetik dapat menjadi dua hal yang saling melengkapi.
Mengetahui kapan harus menulis tangan atau kapan harus menggunakan perangkat digital sangatlah penting, baik untuk mencatat hal yang sedang dipelajari maupun menulis esai atau tulisan yang lebih panjang. Pilihan metode menulis dapat disesuaikan dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. Jadi, apakah Anda sudah menulis tangan hari ini?
Penulis: Zulfa Yuniarti
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana
Van Der Weel, F. R. (Ruud), & Van Der Meer, A. L. H. 2024. “Handwriting but not typewriting leads to widespread brain connectivity: A high-density EEG study with implications for the classroom”. Frontiers in Psychology, 14, 1219945.
Anastasya Lavenia. 2022. “Budaya Menulis Tangan yang Kian Terkikis di Era Teknologi”. Cxo Media.
Sysilia Tanhati. 2024. “Peneliti Ungkap Manfaat Menulis dengan Tangan yang Mulai Ditinggalkan”. National Geographic Indonesia.
Redaksi. 2024. “Tulisan Tangan, Masihkah Relevan?”. Sikula.id.
Tvonenews. 2024. “One on One Bersama Prof. Stella Christie Wamen Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi”. YouTube.
Metrotv. 2025. “Prof. Stella: Otak vs AI”.YouTube.
Olenkanews. 2025. “Membiasakan Membaca Buku Cetak dan Menulis dengan Tangan”. Instagram.
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Kecerdasan buatan (AI) perlahan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Indonesia. Pemerintah menjadikan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan dan
Mengutip dari Oxford Dictionary, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat mengonsumsi konten daring tidak berkualitas

Wajah-wajah bahagia para superhero cilik menghiasi panggung usai prosesi penyematan. Momen ini menjadi penanda atas setiap usaha, pembelajaran, dan nilai

Sebanyak 13 mahasiswa Program Magister Sains Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ilmu Sosial

Kisah petualangan anak-anak menemukan impian dan cita-cita mereka

IGSBB Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru Inovatif dan Parenting Orang Tua pada tanggal 14–15 Mei 2026 bertempat di Aula

Bandung, 20 April 2026 — Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui Kegiatan Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini pada Sub Kegiatan Sosialisasi