Mendidik Gen Z dan Generasi Alfa
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Oleh Trias Syaifulina
“Lihat tuh teman kamu, mereka aja bisa, kok kamu gak bisa?”
“Kamu anaknya memang susah diatur!”
“Ngerjain kayak gitu aja lama banget!”
Ucapan-ucapan di atas sering terdengar di rumah maupun di sekolah. Bagi orang dewasa, mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi anak, ucapan sederhana itu bisa menancap sebagai luka kecil yang membentuk cara mereka menilai diri sendiri. Luka tidak selalu tampak di permukaan, tetapi dapat memengaruhi rasa percaya diri, motivasi, hingga identitas yang mereka bangun sepanjang hidup.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar, bukan hanya membaca, menulis, dan berhitung, melainkan juga mengenali siapa dirinya. Sayangnya, sekolah kini kerap berubah menjadi ruang penuh label, ketika bahasa yang digunakan guru maupun orang tua lebih banyak berisi penilaian daripada penghargaan.
Dalam kajian komunikasi, bahasa bukanlah alat netral, bahasa dipahami bukan sekadar alat menyampaikan pesan, melainkan konstruksi sosial yang membentuk realitas. Pendapat Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf misalnya, mengemukakan bahwa bahasa memengaruhi cara manusia berpikir dan memandang dunia. Dengan kata lain, apa yang diucapkan kepada anak berpotensi membentuk cara mereka menilai diri sendiri.
Bagi anak usia sekolah dasar, fase perkembangan identitas sedang berlangsung intensif. Mereka mencari pengakuan, membangun rasa percaya diri, dan mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kata-kata yang diulang terus menerus akan mereka serap sebagai cermin. Ketika seorang anak berkali-kali dilabeli “pemalas” atau “nakal”, ia bukan hanya mendengar penilaian, tetapi juga mulai mempercayainya sebagai bagian dari jati diri.
Ironisnya, perilaku sesaat itu berubah menjadi identitas permanen dalam pandangan orang dewasa, lalu perlahan menjelma menjadi kebenaran dalam pikiran anak. Inilah yang oleh Teori Labeling dalam Sosiologi disebut sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu ramalan yang terpenuhi karena terus diyakini.
Bahasa yang melukai juga semakin terasa ketika anak menghadapi tantangan tertentu dalam proses belajarnya. Ucapan seperti, “Masa segitu aja gak bisa,” terdengar sederhana, tetapi bagi anak bisa menjadi tembok yang mempertebal rasa keterpisahan.
“Ucapan sederhana seperti, ‘Tidak apa-apa salah, yang penting berani mencoba,’ memberi makna yang jauh berbeda dibanding, ‘Kamu memang malas belajar.’ Perbedaan nada itu mungkin tampak tipis, tetapi bagi anak, ia menandai apakah dirinya dipasung oleh label atau diberi kesempatan untuk tumbuh.”
Alih-alih membuka ruang tumbuh, bahasa seperti ini justru menutup kemungkinan untuk melihat potensi mereka sebagai individu yang unik. Ruang belajar yang seharusnya memberi kesempatan, justru bisa terasa membatasi ketika bahasa digunakan sebagai alat untuk memperkuat diskriminasi.
Namun, bukan hanya melukai—bahasa juga bisa menyembuhkan. Berbagai penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa dukungan verbal dapat meningkatkan resiliensi anak. Ucapan-ucapan yang menghargai usaha, alih-alih hanya hasil, mampu mendorong mereka untuk berani mencoba kembali.
Ucapan sederhana seperti, “Tidak apa-apa salah, yang penting berani mencoba,” memberi makna yang jauh berbeda dibanding, “Kamu memang malas belajar.” Perbedaan nada itu mungkin tampak tipis, tetapi bagi anak, ia menandai apakah dirinya dipasung oleh label atau diberi kesempatan untuk tumbuh.
Dalam kerangka pendidikan karakter, khususnya Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF), bahasa sehari-hari adalah fondasi yang menumbuhkan karakter anak. Nilai-nilai 9 Pilar Karakter—seperti cinta Tuhan dan ciptaan-Nya, tanggung jawab, jujur, hormat, santun, percaya diri, rendah hati, kerja sama, dan tolong menolong—tidak akan efektif bila hanya diajarkan lewat teori. Nilai itu menjadi nyata ketika hadir dalam interaksi sehari-hari, terutama melalui bahasa yang dipakai guru dan orang tua.
Demikian pula dengan penerapan K4 (Kebersihan, Kerapihan, Kesehatan, Keamanan). Anak-anak belajar K4 bukan hanya dari aturan tertulis, tetapi dari cara guru memberi penguatan lewat kata-kata. Misalnya, ketika anak diajak dengan kalimat positif seperti, “Terima kasih sudah berusaha menjaga kelas tetap rapi,” mereka belajar bahwa disiplin dan kepedulian itu bernilai, bukan sekadar kewajiban.
Atmosfer kelas yang dibangun dengan bahasa penuh penghargaan akan menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa hormat pada diri maupun orang lain. Inilah esensi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, yaitu menumbuhkan manusia seutuhnya, yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral, emosional, dan sosial.
Kata-kata “sepele” mungkin terucap beberapa detik, tetapi jejaknya bisa menetap sepanjang hidup. Bahasa yang dipilih orang tua, guru, maupun teman sebaya menentukan apakah seorang anak tumbuh dengan rasa diterima atau justru merasa terpinggirkan. Membangun pendidikan karakter yang kuat tidak harus dimulai dari program besar—sering kali ia berawal dari sesuatu yang paling sederhana: pilihan kata.
Penulis: Trias Syaifulina
Editor: Ratna Safitri
Rujukan
Bohnemeyer, J. (2021). Linguistic relativity: From whorf to now. In The Wiley Blackwell Companion to Semantics. https://doi.org/10.1002/9781118788516.sem013
Stukas, A. A., & Snyder, M. (2016). Self-fulfilling prophecies. In Encyclopedia of Mental Health: Second Edition (Issue March). https://doi.org/10.1016/B978-0-12-397045-9.00220-2
Ketika otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih tugas-tugas teknis, nilai tertinggi manusia terletak pada kemampuan yang tidak bisa ditiru mesin,
Kecerdasan buatan (AI) perlahan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Indonesia. Pemerintah menjadikan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan dan
Mengutip dari Oxford Dictionary, brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat mengonsumsi konten daring tidak berkualitas

Sekitar pukul 7 pagi, siswa dan orang tua hadir di Makara Art Center Universitas Indonesia dengan perasaan antusias dan anak-anak

IGSBB Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Guru Inovatif dan Parenting Orang Tua pada tanggal 14–15 Mei 2026 bertempat di Aula

Bandung, 20 April 2026 — Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui Kegiatan Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini pada Sub Kegiatan Sosialisasi

Oleh Maulady Virdausy Fahmy Share: Pelecehan seksual, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, adalah pelanggaran terhadap martabat seseorang serta mengganggu

Oleh Teuku Zulman Sangga Buana Hari kemenangan akan segera tiba. Bagi Ayah dan Bunda, momen Lebaran biasanya identik dengan persiapan