
Tim Penggerak PKK Desa Wetan memprakarsai berdirinya PAUD Harapan Bunda 1 pada tahun 2008. Akan tetapi, sejak awal berdiri, guru pamong mengalami kebuntuan karena pembelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan hanya bernyanyi, mewarnai, mengerjakan lembar kerja (LK), latihan membaca, dan berhitung. Saat itu, belum ada panduan standar untuk mengajar di PAUD dengan benar.
Awalnya, Ibu Hindasah menerima amanah menjadi guru karena terpaksa. Namun, setelah menjalaninya, profesi guru PAUD adalah anugerah baginya. Selain bisa mengajar anak didiknya di sekolah, beliau juga bisa mempraktikkannya saat mengajar anak-anaknya di rumah.
Pada April 2011, Ibu Hindasah dan Ibu Yuli Mulyati (salah seorang guru dari PAUD Harapan Bunda 1) terpilih mewakili Kabupaten Garut untuk mengikuti pelatihan bersponsor selama empat belas hari di Indonesia Heritage Foundation (IHF), Kota Depok. Waktu itu, keberangkatan Bu Hindasah disponsori oleh Yayasan Baitul Maal Bank BRI (YBM BRI). Tahun 2011, YBM BRI membiayai dua sekolah SBB untuk mengikuti pelatihan di IHF.
Keberuntungan dan hadiah dari Tuhan ini tidak beliau sia-siakan. Ia mengikuti kegiatan hingga tuntas dan sungguh-sungguh mengikuti satu demi satu materi yang diajarkan, dari teori yang berat, cara menerapkan modul pilar dan modul PHBK, bagaimana mengajar dengan menyenangkan dan penuh cinta, hingga praktik mengajar langsung di Sekolah Karakter.
Sepulangnya dari IHF, sedikit demi sedikit beliau mengubah cara mengajarnya, misalnya perubahan komunikasi kepada siswa di kelas, intonasi suara saat mengajar, dan perubahan total pada kegiatan yang diajarkan. Kegiatan kelas pun menjadi hidup dan menyenangkan. Selain itu, bersama dengan Bu Yuli, Bu Hindasah juga melakukan bedah modul, yaitu Modul Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) dan Modul Pilar.
“Setelah keluar dari PAUD harus bisa calistung,” begitulah pola pikir arus utama (mainstream) dari kepala desa, aparatur dinas pendidikan, keluarga besar, dan tuntutan orang tua di sana ketika itu. Cara berpikir itu sempat memengaruhi beliau pada awalnya. Namun, Bu Hindasah tetap bertahan dengan keyakinannya bahwa memupuk karakter itu lebih utama. Ia konsisten menerapkan Pilar Karakter sebagaimana yang diajarkan oleh mentor IHF.
Buah dari keyakinan dan kerja kerasnya mulai terlihat ketika kepercayaan masyarakat terhadap PAUD ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah siswa terus-menerus meningkat. Pada awal tahun 2008, jumlah siswa hanya 18 orang, kini ada sekitar 34 anak dan 5 orang guru.
Sekolah Dasar Negeri 1 Cikondang menerima imbas baiknya. Para siswa sekolah ini berhasil meraih sejumlah prestasi yang membanggakan, antara lain, Juara Olimpiade Matematika tingkat kabupaten dan mewakili Provinsi Jawa Barat pada (2018), Juara Olimpiade IPA tingkat kecamatan dan mewakili Kabupaten Garut (2019), dan Juara MTQ tingkat kecamatan dan mewakili Kabupaten Garut (2018). Menariknya, seluruh siswa berprestasi tersebut adalah alumni PAUD Harapan Bunda 1.
Kebanggaan yang dirasakan Bu Hindasah tidak serta-merta membuatnya besar kepala. Beliau membagikan kabar gembira ini kepada guru-guru PAUD lainnya di Kabupaten Garut. Hal itulah yang membawa sekolah lainnya di Kabupaten Garut berinisiatif agar bisa memperoleh ilmu yang sama.
Tahun 2019 lalu, telah terlaksana pelatihan akbar guru PAUD di Garut dengan peserta sebanyak 1.400-an guru, yang berasal dari seluruh wilayah di Kabupaten Garut. Bahkan, Pemda setempat melalui Bupati Garut memberikan sumbangan untuk renovasi gedung sekolah. Kini, PAUD Harapan Bunda 1 telah memiliki gedung yang sangat layak untuk proses pembelajaran, parenting orang tua, dan kegiatan lainnya.
Penulis: Ari Saptarini
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana
Testimoni ini disampaikan oleh Ibu Hindasah, Kepala Sekolah PAUD Harapan Bunda 1 yang beralamat di Kampung Desa Wetan, RT 01/RW 01, Dusun Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garu, Provinsi Jawa Barat.