
Ada sesuatu yang menggelitik diri ini, saat berjalan kaki bersama siswa-siswi Semai Benih Bangsa (SBB) Rukhul Ukhuwwah menuju ke sebuah peternakan siang itu. Matahari yang terik, tepat di atas kepala, tak membuat mereka panas dan gerah. Yang keluar dari lisan mereka adalah kata-kata positif yang memotivasi, “Bu guru, aku kuat berjalan! Aku bisa! Tadi sudah snack time. Jadi, aku kuat, Bu!”
Sebagai orang dewasa, aku merasakan cuaca siang itu memang sangat panas. Tapi, malu rasanya kalah sama anak-anak balita, siswa-siswi SBB Rukhul Ukhuwwah. Dengan barisan rapi mengikuti arahan gurunya, mereka berjalan tertib di tepi jalan perkampungan, melewati pemukiman padat, sekolahan, dan pemakaman.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, sampailah kami di peternakan milik warga lokal, yang mempunyai peternakan ayam kampung, ayam kalkun, ikan nila, dan ikan lele di samping rumahnya. Kegiatan belajar mengajar sekolah Semai Benih Bangsa (SBB) Rukhul Ukhuwwah tidak melulu berkegiatan di dalam kelas, tapi juga berkegiatan di luar kelas.
Ibu Lina Marsini, kepala sekolah sekaligus pemilik SBB Rukhul Ukhuwwah, sebelumnya tinggal di Kota Semarang dan menjadi guru di salah satu sekolah swasta Islam di kota tersebut. Karena mengikuti suami pindah ke Jakarta, beliau pun mulai mencari sekolah yang sesuai untuk buah hatinya. Ia mendaftarkan putrinya di TK yang terdekat dengan rumahnya.
Mengetahui Bu Lina berpengalaman mengajar, kepala sekolah tersebut mengajaknya bergabung menjadi guru di sekolah itu. Di sana, Bu Lina mengabdikan diri menjadi pengajar selama empat tahun. Setelah putrinya lulus dari sekolah itu, ia pun meminta izin untuk mendirikan sekolah sendiri.
Dalam proses pencarian inilah, akhirnya, beliau bertemu dengan Indonesia Heritage Foundation (IHF). Bu Lina mengikuti pelatihan Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) selama 14 hari di Depok bersama seorang temannya. “Waktu itu, ibu mengikuti pelatihan dengan biaya mencicil karena ingin mendapatkan semua modul dan buku-bukunya IHF,” cerita beliau.
SBB Rukhul Ukhuwwah menggunakan model PHBK sejak awal berdiri hingga saat ini. Tujuan awal Bu Lina membuat sekolah adalah agar warga menengah ke bawah bisa mendapatkan pendidikan usia dini yang berkualitas dengan harga terjangkau.
Setelah mulai berjalan dengan model PHBK, Bu Lina mendaftarkan sekolahnya agar menjadi sekolah formal. Walau harus melalui jalan berliku karena sempat ditipu oknum yang tidak bertanggung jawab, legalitas dari dinas pendidikan keluar juga pada tahun 2019.
Garasi dan salah satu kamar di rumah orang tua Bu Lina menjadi ruang kelas pertama SBB Rukhul Ukhuwwah. “Alhamdulillah, almarhum ayah saya juga membantu membuatkan rumah pohon, itulah daya tarik sekolah ini,” ujar beliau. Berawal dari satu unit ayunan sederhana di bawah rumah pohon, kini SBB Rukhul Ukhuwwah sudah memiliki alat permainan edukatif (APE) lengkap, indoor dan outdoor. “Pelan-pelan, Bu, sedikit demi sedikit kita kumpulkan. Alhamdulillah, ada bantuan dari Dinas juga,” jelasnya.
Sepulang dari peternakan warga siang itu, beberapa orang tua siswa perwakilan komite siap menjemput anak-anak dengan sepeda motor masing-masing. Bu Lina menjaga silaturahmi dengan komite (orang tua siswa). “Sangat terbantu dengan kompaknya komite sekolah,” ucap beliau sembari memperkenalkan nama-nama pengurus komite kepada penulis.
Kegiatan parenting juga rutin dilakukan, baik dengan menghadirkan pembicara dari luar maupun diisi sendiri oleh Bu Lina. Kegiatan ini biasanya diisi dengan materi seputar komunikasi positif, teknis kerja sama sekolah dengan orang tua, dan materi kekinian lainnya.
Bagi Bu Lina, guru adalah aset berharga sekolah, kesejahteraan guru selalu diperhatikan oleh beliau. Salah satu yang dilakukan beliau untuk meningkatkan SDM gurunya adalah dengan memberikan beasiswa kepada guru yang baru lulus SMA untuk melanjutkan pendidikan S-1 PAUD di Sekolah Tinggi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (STPHBK).
Penulis: Ari Saptarini
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana