SBB An Nahl Payakumbuh, Impian Melahirkan Anak-Anak Berakhlak Mulia

Dokumentasi SBB An Nahl

Terdengar suara riuh anak-anak di area belakang kediaman Ibu Betty saat wawancara berlangsung. Sejak delapan belas tahun lalu, tepatnya tahun 2007, SBB An Nahl bertempat di rumah pribadi Bu Betty. Mulanya SBB An Nahl dari sepetak garasi saja. Namun, lambat laun SBB ini meluas ke halaman, teras, ruang tamu, hingga akhirnya menyisakan satu area pribadi untuk Bu Betty, yaitu kamarnya. Seluruh bagian rumahnya menjadi penuh dengan siswa.

Cita-cita Bu Betty sejak lama memang ingin mendirikan sekolah yang kelak melahirkan anak-anak berakhlak mulia serta cinta Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Karena itu, berdirilah SBB An Nahl pada 17 Juli 2007 yang diawali dengan level PAUD.

Suatu ketika, bak gayung bersambut, undangan dari Ibu Gamawan Fauzi, gubernur Sumatra Barat kala itu sejalan dengan tujuan Bu Betty menebar manfaat kepada masyarakat di bidang pendidikan anak usia dini. Tahun 2008, ia dan salah satu guru di sekolahnya dipilih oleh PKK Provinsi Sumatra Barat untuk mengikuti pelatihan Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang disponsori oleh SCTV. Program sponsor tersebut merupakan program Yayasan Pundi Amal SCTV. Ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan Bu Betty selama empat belas hari mengikuti kegiatan pelatihan di IHF. Baginya saat itu serasa mendapatkan banyak saudara yang punya tujuan sama.

Dokumentasi SBB An Nahl

Yayasan Pundi Amal SCTV adalah donatur IHF sejak tahun 2007 sampai 2010, yang sudah melatih sebanyak 316 sekolah SBB yang dibantu diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan selama empat belas hari di IHF.

Waktu berjalan. Dalam proses pendirian PAUD An Nahl tentu ada beberapa hal yang diperlukan oleh Bu Betty. Untuk mempermudah perizinan dari Dinas Pendidikan, ternyata perlu adanya yayasan yang menaungi TK An Nahl.

Namun, mendirikan yayasan tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Upaya mengatasi itu, Bu Betty berusaha mencari jalan lain untuk mengumpulkan dana, yaitu dengan membuka les sore yang siswanya adalah siswa sekolah dasar yang ada di sekitar rumahya. Mereka membayar Rp2.000 sekali datang. Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menjalani proses yang cukup penuh perjuangan, yayasan yang dicita-citakan pun terealisasi.

Siswa pertama Bu Betty hanya berjumlah delapan orang. Mereka yang datang untuk bersekolah merupakan warga sekitar yang dikunjungi Bu Betty dalam rangka bersilaturahmi sambil mengenalkan SBB An Nahl. Seiring berjalannya waktu, siswa TK An Nahl semakin bertambah setiap minggunya berkat informasi yang beredar di masyarakat. Kini siswa TK An Nahl sekitar 200 orang dengan pencapaian cukup luar biasa karena sudah berhasil meluluskan ribuan siswa sampai sekarang.

Orang tua siswa atau wali murid PAUD An Nahl mulai merasakan perubahan pada anak-anak mereka dan memberikan testimoninya. “Saat pergi jalan-jalan, anak saya selalu mengumpulkan sampah di tasnya karena dia tidak menemukan tempat sampah,” ungkap salah seorang wali murid yang merasa semakin mantap dalam mengajarkan konsep 9 Pilar Karakter.

Dokumentasi SBB An Nahl

Apa yang mereka alami di rumah, mereka sampaikan kepada Bu Betty saat ada pertemuan bulanan Forum Silaturahmi Wali Murid An Nahl (Forswa). Di sekolah dasar negeri, alumni SBB An Nahl juga dikenal karena kebanyakan dari mereka berprestasi baik, santun, ramah, percaya diri, dan berjiwa pemimpin.

Banyak inspirasi yang Bu Betty peroleh sejak mengikuti pelatihan dan magang di IHF. Ia pernah magang di SBB Tapos. Salah satu yang menarik bagi Bu Betty yang dapat diadopsi dari SBB Tapos adalah kerja sama dengan orang tua siswa atau wali murid dalam membuat piket harian. Wali murid melakukan praktik langsung di sekolah dan mendapat respons baik dari seluruh wali murid TK An Nahl.

Tugas piket harian orang tua siswa atau wali murid adalah menjaga keamanan, kenyamanan, kebersihan, dan kerapian kelas. Selain itu, para wali murid juga telah mengusulkan dibukanya level sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Sampai tahun ini, SBB An Nahl mulai membuka level sekolah menengah atas (SMA). Uniknya, setiap membuka level baru, Bu Betty hanya berbekal keyakinan.

Dengan keyakinan kuat bahwa niat yang tulus dapat menarik hal-hal baik dan mendatangkan pertolongan untuk bersinergi dalam lingkaran kebaikan. Tidak perlu gedung megah atau sarana dan prasarana mewah. Asalkan ada siswa, tempat yang cukup (seadanya) dan guru yang mau mengajar dengan cinta maka proses pembelajaran dapat berlangsung.

Pada tahun 2011, An Nahl menjadi PAUD Percontohan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Meskipun bangunan gedungnya sangat sederhana, menggunakan saung-saung dan ruko, tetapi tetap banyak yang berminat untuk melakukan observasi langsung ke SBB An Nahl. Beberapa dari mereka bertanya mengenai Modul PHBK yang hingga kini masih menjadi acuan utama kegiatan pembelajaran di kelas. Kurikulum Dinas dan Kurikulum PHBK yang digunakan selalu sejalan dan mudah untuk diaplikasikan. Orang tua siswa atau wali murid pun tetap mau menyekolahkan anak mereka di SBB An Nahl karena materi yang disampaikan oleh para guru lebih utama dari sekadar bangunan fisik.

Guru-guru SBB An Nahl sering diundang untuk menjadi pembicara pelatihan dan parenting, baik di dinas maupun di sekolah swasta. Dengan ilmu dasar yang mereka peroleh dari IHF, mereka dapat mengembangkan diri menjadi mentor.

Meskipun guru-guru di SBB An Nahl tidak ada sama sekali yang lulusan Jurusan PGPAUD, tetapi mereka tetap mampu mengajar berbekal panduan Modul PHBK dari IHF. Selain itu, guru-guru SBB An Nahl aktif di komunitas profesi guru, seperti IGTKI, HIMPAUDI, dan lain lain untuk memperoleh ilmu, yang kemudian ilmu tersebut dibagikan kembali bersama guru-guru lain.

Ada hal yang istimewa juga di guru-guru SBB An Nahl, mereka aktif menulis di berbagai media dan aktif mengikuti lomba, seperti menari, senam, membuat APE, dan lain-lain.

Semoga SBB An Nahl semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan masyarakat luas.

Penulis: Ari Saptarini
Editor: Dewanti Nurcahyani

SBB An Nahl berlokasi di Payakumbuh, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.