
ANTARA/HO-Yabn Pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) yang digelar Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) mendapat respons antusias dari para guru PAUD di Kabupaten Tabalong dan Balangan, Sabtu (29/11/2025).
IHF.OR.ID, TANJUNG – Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) menggelar Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan pada Minggu, 10 November 2025. Pelatihan ini mendapat respons antusias dari para guru PAUD di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan.
Salah satu peserta, Linda, dari TK Harapan Masa, Desa Habau, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong mengaku pelatihan tersebut membantunya lebih memahami perilaku dan karakter anak, terutama saat mendampingi proses belajar yang berbeda pada setiap murid.
Sejak tahun 2018 di sekolah kami sudah menerapkan PHBK. Pelatihan ini membuat saya lebih mudah memahami pola belajar anak dan mendampingi mereka sesuai kebutuhan,” ujar Linda, pada Minggu (29/11/2025), dilansir dari kalsel.antaranews.com.
Ia menyebutkan, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) memungkinkan guru mengamati perubahan perilaku anak secara lebih detail sehingga materi yang diberikan bisa disesuaikan dengan kesiapan dan kemampuan masing-masing anak.
Sementara itu, Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, H A Syamsi, menilai pelatihan tersebut memberi manfaat besar bagi pendidik di daerah.
Florence Yulisinta (Direktur Pendidikan, Litbang, dan Keuangan IHF) memberikan wawasan terkait implementasi Kurikulum Merdeka dan Deep Learning Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) kepada para guru PAUD di Kabupaten Tabalong dan Balangan, Sabtu (29/11/2025).
Menurut dia, pemahaman terhadap pembelajaran mendalam masih terbatas sehingga penguatan kompetensi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas layanan PAUD.
Ia menjelaskan, penerapan pembelajaran mendalam memungkinkan anak menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari, termasuk cara berkomunikasi dan berinteraksi. Karena itu, guru dituntut menyiapkan pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat aktivitas.
“Anak perlu ruang untuk berekspresi dan berinteraksi, bukan sekadar mendengarkan. Peran guru adalah memastikan proses itu berjalan,” ujar H A Syamsi.
Para guru berharap pengalaman dari pelatihan tersebut dapat diaplikasikan untuk memperkaya kegiatan belajar di kelas sekaligus memperkuat pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana
Sumber: kalsel.antaranews.com